
Osteoporosis merupakan salah satu masalah kesehatan yang paling sering dialami oleh individu dewasa hingga lansia. Kondisi ini ditandai dengan penurunan kepadatan mineral tulang dan perubahan struktur tulang sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Sayangnya, osteoporosis sering disebut sebagai silent disease karena berkembang secara perlahan tanpa gejala yang jelas hingga terjadi patah tulang (Aceh et al. 2025). Oleh karena itu, upaya pencegahan sejak dini sangat penting untuk menjaga kualitas hidup di usia lanjut.
Mengenal Peran Kolagen dalam Struktur Tulang
Tulang tidak hanya tersusun dari mineral seperti kalsium dan fosfor, tetapi juga dari matriks organik yang sebagian besar terdiri atas kolagen, terutama kolagen tipe I. Kolagen membentuk kerangka dasar tulang yang berfungsi sebagai penopang tempat mineral menempel (Guillerminet et al. 2010). Tanpa kolagen yang cukup dan berkualitas, struktur tulang akan kehilangan fleksibilitas dan kekuatannya, sehingga lebih mudah mengalami keretakan. Dengan kata lain, kolagen memberikan kombinasi sifat kuat dan lentur pada tulang. Mineral memberikan kekerasan, sedangkan kolagen mencegah tulang menjadi terlalu kaku dan rapuh.
Kolagen Terhidrolisis dan Pembentukan Tulang
Kolagen terhidrolisis, seperti gelatin dan kolagen peptida, merupakan bentuk kolagen yang telah dipecah menjadi molekul lebih kecil sehingga lebih mudah diserap oleh tubuh. Setelah dikonsumsi, komponen kolagen ini dapat merangsang aktivitas sel pembentuk tulang (osteoblas) sekaligus membantu menekan aktivitas sel perombak tulang (osteoklas) (Andriani 2020).
Proses ini penting dalam menjaga keseimbangan metabolisme tulang. Pada usia lanjut, aktivitas osteoklas cenderung lebih dominan dibandingkan osteoblas, yang menyebabkan pengeroposan tulang. Asupan kolagen yang cukup dapat membantu memperlambat proses degradasi tulang tersebut (Sun et al. 2025).
Kolagen dan Kepadatan Mineral Tulang
Dengan tersedianya struktur kolagen yang kuat, proses deposisi mineral ke dalam tulang dapat berlangsung lebih optimal. Kolagen berperan sebagai “rangka” yang memastikan mineral tulang tersusun dengan baik dan merata. Hal ini berkontribusi pada peningkatan atau pemeliharaan kepadatan mineral tulang, yang menjadi indikator utama kesehatan tulang (Sun et al. 2025).
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsumsi kolagen secara rutin, terutama bila dikombinasikan dengan asupan kalsium, vitamin D, dan gaya hidup aktif, dapat memberikan efek positif terhadap kekuatan tulang.
Manfaat Jangka Panjang bagi Lansia
Pada usia lanjut, risiko patah tulang meningkat secara signifikan, terutama pada area pinggul, tulang belakang, dan pergelangan tangan. Patah tulang pada lansia tidak hanya berdampak pada mobilitas, tetapi juga dapat menurunkan kemandirian dan kualitas hidup (Morin et al. 2025). Konsumsi kolagen secara rutin berpotensi membantu menurunkan risiko patah tulang dengan menjaga struktur dan kekuatan tulang. Selain itu, kolagen juga berkontribusi terhadap kesehatan sendi dan jaringan ikat, sehingga mendukung aktivitas fisik yang aman dan berkelanjutan (Sun et al. 2025).
Dosis, Kombinasi Nutrisi, dan Faktor Pendukung
Menurut penelitian Khatri et al. (2021), sebagian besar studi klinis menggunakan kolagen terhidrolisis atau kolagen peptida dengan dosis berkisar antara 5–15 gram per hari, dikonsumsi secara rutin selama beberapa bulan hingga satu tahun. Efek kolagen terhadap kesehatan tulang cenderung lebih optimal bila dikombinasikan dengan nutrisi lain yang berperan dalam metabolisme tulang, seperti kalsium, vitamin D, dan vitamin K. Vitamin D berperan dalam meningkatkan penyerapan kalsium di usus, sedangkan vitamin K berkontribusi dalam proses mineralisasi tulang. Aktivitas fisik, khususnya latihan beban ringan dan latihan keseimbangan, juga terbukti memperkuat efek positif kolagen dengan merangsang pembentukan tulang secara fisiologis.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa suplementasi kolagen peptida dapat meningkatkan kepadatan mineral tulang (Bone Mineral Density/BMD), khususnya pada wanita pascamenopause yang memiliki risiko osteoporosis lebih tinggi. Studi terkontrol secara acak melaporkan peningkatan signifikan pada BMD tulang belakang dan leher femur setelah konsumsi kolagen peptida selama 12 bulan. Selain itu, studi observasional jangka panjang hingga 4 tahun menunjukkan bahwa konsumsi kolagen peptida bioaktif tidak hanya mempertahankan, tetapi juga meningkatkan kepadatan tulang pada individu dengan osteopenia. Meta-analisis terbaru juga mengonfirmasi bahwa kolagen peptida memberikan efek positif terhadap marker pembentukan tulang dan menurunkan marker resorpsi tulang, terutama bila dikombinasikan dengan kalsium dan vitamin D (Sun et al. 2025).
Keamanan dan Penggunaan Jangka Panjang
Kolagen terhidrolisis umumnya dianggap aman dan dapat ditoleransi dengan baik untuk penggunaan jangka panjang. Efek samping yang dilaporkan relatif ringan, seperti rasa tidak nyaman pada saluran cerna, dan jarang terjadi. Namun, individu dengan kondisi medis tertentu atau alergi sumber kolagen disarankan untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum mengonsumsi suplemen kolagen secara rutin.
Kesimpulan
Kolagen memiliki peran penting dalam pencegahan osteoporosis dan pemeliharaan kesehatan tulang. Sebagai komponen utama matriks organik tulang, kolagen membantu menyediakan struktur dasar bagi mineral tulang, meningkatkan pembentukan tulang, serta menghambat degradasinya. Konsumsi kolagen terhidrolisis secara rutin, didukung oleh asupan kalsium dan vitamin D serta gaya hidup aktif, dapat menjadi strategi preventif yang menjanjikan untuk menjaga kepadatan mineral tulang dan menurunkan risiko patah tulang di usia lanjut.
Daftar Pustaka
Aceh, H. K., Nasution, J. J., & Marniati. (2025). Get to know osteoporosis: A bone disease that is often recognized late: Literature review. Journal Hygea Public Health, 3(2), 95–110. https://jurnal.unived.ac.id/index.php/jhph/article/view/8757/6004
Andriani, L. I. O. (n.d.). Strategi pemenuhan gizi pada pasien osteoporosis: Peran nutrisi dalam menjaga kekuatan tulang. Repository Universitas Hasanuddin. https://repository.unhas.ac.id/id/eprint/2925/
Guillerminet, F., Fabien-Soulé, V., Even, P. C., Tomé, D., Benhamou, C. L., Roux, C., & Blais, A. (2010). Hydrolyzed collagen improves bone metabolism and biomechanical parameters in ovariectomized mice: An in vitro and in vivo study. Bone, 46(3), 827–834.
Khatri, M., Naughton, R. J., Clark, M. A. P., Ismene, T., & V., K. (2021). The effects of collagen peptide supplementation on body composition, collagen synthesis, and recovery from joint injury and exercise: A systematic review and meta-analysis. Amino Acids, 53(11), 1499–1515. https://doi.org/10.1007/s00726-021-03078-6
Morin, S. N., Leslie, W. D., Schousboe, J. T., et al. (2025). Osteoporosis: A review. JAMA, 334(10), 894–907. https://doi.org/10.1001/jama.2025.6003
Sun, T., et al. (2025). Efficacy of collagen peptide supplementation on bone and muscle health: A meta-analysis. PubMed. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/41049371/